Aku dan Seekor Anjing Menjatuhkan Orde Baru
Untuk ulang tahunku yang ke-30, kawan-kawan membeli sepuluh botol arak beras merk Guci yang keras luar biasa.
“Untuk dirimu sendiri,” kata mereka, “Kau boleh mengambil dua botol. Sisanya kami minum bersama.”
Mereka menuang arak dalam gelas-gelas besar, alih-alih sloki-sloki kecil seperti biasa. Dan sebelum dua jam berlalu, kami bergelimpangan seperti para serdadu yang tewas di medan perang.
Aku terbangun menjelang Magrib dengan kepala pengar luar biasa dan perut lapar. Aku tidak menemukan satu pun kawanku dan aku menggeliat bangun sambil menggerutu dengan gusar. Setidaknya, mereka seharusnya bisa membangunkanku sebelum pergi. Kami minum di batu ceper besar di tepi Kali Baya. Dan siapa yang bisa menjamin tidak akan ada ular yang melilit jika salah satu di antara kami ditinggalkan begitu saja?
Dengan terseok-seok, aku berjalan pulang.
Dan pada waktu itulah, aku melihat si anjing. Kecil dan lapar. Menengok ke arahku dengan ekor bergoyang kencang.
Aku dan si anjing berjalan ke warung rica-rica Pak Pri. Letaknya tidak begitu jauh dari batu ceper tempat aku tertidur dan ditinggalkan oleh kawan-kawanku.
Sebelum itu, dari goyangan ekornya, aku tahu si anjing ingin berteman denganku – atau setidaknya, ia menyukaiku; atau kalau tidak, ia tidak merasa terancam atas kehadiranku. Aku mengulurkan tangan dan ia mendekat, sedikit menyalak, lalu menjilat. Lantas aku mengelus kepalanya yang ditumbuhi bulu tipis dan kasar dan berwarna coklat. Seekor kutu tampak berusaha berlari tergesa ketika tanganku mengusap kepala si anjing.
Agaknya, si anjing berusia satu tahun atau tak jauh-jauh dari itu. Ia adalah anjing jantan jenis mongrel, dan jelas ia tidak bertuan. Ia tidak mengenakan kalung atau tanda pengenal lainnya. Dari sedikit scabies di punggungnya, aku tahu ia tidak terawat.
“Aku berulang tahun hari ini,” kataku kepada Pak Pri. “Yang ketiga puluh.”
Pak Pri menguap. “Luar biasa,” katanya, “Tiga puluh tahun dan menganggur. Seperti kebanyakan pemuda sini.”
Pak Pri selalu bertingkah menyebalkan. Namun, sesungguhnya ia orang yang baik. Ia mempunyai sebuah buku tulis Sinar Dunia yang bagus kertasnya berisi daftar orang-orang yang berhutang di warungnya. Namaku masuk di daftar itu. Dan meski ia selalu mengomel, namun ia tidak pernah keberatan menambah deretan angka di samping namaku dalam daftar tersebut.
Di sudut warung, beberapa orang berkumpul menonton tivi.
“Aku berulang tahun yang ketiga puluh,” kataku lagi, “Dan aku lapar.”
“Dan karena kau berulang tahun, aku akan memberimu sepiring rica-rica,” kata Pak Pri. “Namun kali ini kau harus membayar. Karena kau berulang tahun yang ketiga puluh dan kau lapar.”
Aku mengeluh. Menepuk-nepuk kantongku. Dan menggeleng.
“Aku tidak punya uang,” kataku, “Tapi aku sedang berulang tahun.”
Pak Pri menggeleng. “Selalu seperti itu,” katanya, “Kau seharusnya pergi ke suatu tempat dan mencari pekerjaan. Sama seperti yang dilakukan orang normal.”
“Aku punya pekerjaan,” kataku. “Aku tidak menganggur.”
“Nak,” kata Pak Pri, “nongkrong di pinggir jalan, mabuk-mabukan, dan memalak orang lewat tidak bisa dikatakan pekerjaan.”
Aku mendengus kesal. Pengar di kepalaku bertambah. Dan rasanya, alkohol dalam darahku naik lagi. Aku tidak tahu jika hal seperti itu bisa terjadi.
“Aku membawa anjing,” kataku kemudian.
“Aku berjualan rica-rica biawak, Nak,” kata Pak Pri, “bukan rica-rica anjing.”
Sekalipun begitu, ia menyuruhku duduk, memberiku segelas arak dan sepiring rica-rica yang sangat pedas. “Hanya karena kau berulang tahun hari ini,” katanya lagi.
Si anjing duduk di samping kaki kursi yang aku tempati. Ia mendengus dan menjulur-julurkan lidah menatapku.
“Ngomong-ngomong,” kata Pak Pri. “Anjingmu lapar.”
“Dia bukan anjingku,” kataku. “Kami bertemu di jalan tadi dan ia mengikutiku.”
Aku melemparkan sekerat tulang biawak dari mulutku. Dan si anjing segera mengunyahnya.
“Kau tahu,” kata Pak Pri, “orang-orang itu mau pergi ke Jakarta.” Ia menunjuk sejumlah orang yang tengah asyik menonton tivi.
“Cari uang mudah di sana,” katanya lagi. “Kalau kau mau, kau bisa bergabung bersama mereka.”
“Kata siapa cari uang mudah di Jakarta?” kataku. “Omong kosong. Aku punya kenalan yang pergi ke Jakarta dan jadi sinting ketika pulang. Pulang jalan kaki – hampir dua bulan lamanya sebelum ia sampai di rumah dengan betis bengkak dan tumit pecah. Sinting dan tambah melarat.”
“Reformasi, Nak,” kata Pak Pri, “reformasi. Kau tahu apa artinya?”
Aku menggeleng. Menyesap tulang-tulang kecil biawak. Lantas melemparkannya ke si anjing.
“Artinya adalah demonstrasi dan ada orang-orang yang membayarmu untuk itu,” kata Pak Pri. “Artinya adalah kau bisa mengambil semua barang di toko-toko. Uang-uang yang ada di sana. Banyak lah. Namun itu di Jakarta, bukan di sini.”
“Kedengarannya mudah,” kataku. “Dan jika itu mudah, pasti semua orang sudah berada di sana sekarang, maksudku, di Jakarta.”
“Semua orang akan ada di sana,” kata Pak Pri. “Semua orang, khususnya para pengangguran bengal sepertimu. Dan itu akan terus berlangsung sampai Soeharto turun, sampai Orde Baru jatuh.”
Aku menenggak segelas arak yang diberikan Pak Pri. Semua dalam satu kali tegukan besar. Dan segera, sisa-sisa alkohol di tubuhku bangkit, bersatu dengan segelas arak, dan segera membikin kepalaku berdenyar.
Semua orang, khususnya para pengangguran bengal sepertimu. Dan itu akan terus berlangsung sampai Soeharto turun, sampai Orde Baru jatuh.
“Apa susahnya menjatuhkan Soeharto dan Orde Baru sih?” kataku. Dan aku tak menduga bila suara itu cukup kencang sehingga orang-orang yang menonton tivi menoleh ke arahku. Salah satu dari mereka berteriak agar aku tidak ngomong sembarangan.
“Tahu apa kau?” serunya.
Pak Pri menepuk-nepuk tanganku dengan cemas. “Jangan bikin keributan,” katanya. “Mereka belum dapat bagian. Mereka tidak ingin Orde Baru jatuh sebelum mereka pergi ke Jakarta dan turut serta mengambil-ngambil barang dari sembarang toko yang ada di sana. Reformasi. Mereka tak ingin Orde baru tumbang sebelum mereka jadi bagian reformasi.”
“Aku tahu cara menjatuhkan Soeharto. Dan bila itu berarti Orde Baru juga jatuh, maka itu juga berarti aku tahu cara menjatuhkan Orde Baru.”
Orang-orang itu tertawa. Si anjing menggonggong. Penyiar berita di tivi menyampaikan kabar demonstrasi yang meluas dan sebuah mall yang dibakar dan gambar-gambar spanduk bertuliskan reformasi memenuhi layar.
Aku bangkit dari tempat dudukku dan hampir terjatuh karena kepala yang berputar. Gila, aku benar-benar mabuk.
Aku menggapai foto presiden di dinding warung.
“Nih,” kataku membanting foto itu. “Ini Soeharto. Dan aku menjatuhkannya.”
Aku menginjak-injak foto itu. Dan si anjing memburu ke arahku, lantas kencing di atas foto itu.
Pak Pri menyeretku keluar. “Sekarang kau pergi sebelum kau membikin onar seperti biasanya,” katanya, “dan bawa juga anjingmu itu.”
“Aku menjatuhkan Soeharto,” kataku, "Aku dan anjing ini menjatuhkan Orde Baru, tanpa kami perlu pergi ke Jakarta dan merampok toko-toko – hanya sedikit menambah hutang kepadamu dan merusak potret buruk itu.”
Ketika aku sampai rumah, aku tak lagi ingat di mana si anjing dan di mana kami berpisah dan ke mana kira-kira ia pergi. Aku segera membanting diriku di tempat tidur dan terlelap hingga keesokan harinya.
Malamnya, aku melihat Soeharto di tivi membacakan pidato pengunduran dirinya sebagai presiden. Dan aku teringat bagaimana aku dan si anjing menjatuhkan Soeharto dan Orde Baru di warung Pak Pri.
Siapa bisa menduga jika justru kami yang melakukan hal itu – dan apa yang terjadi di Jakarta, hanyalah imbas dari apa yang kami kerjakan?
***
Dadang Ari Murtono, 26 Mei 2022
Komentar
Posting Komentar